Oleh FRANKY ADINEGORO*
SEORANG lelaki berpakaian setelan jas, berpeci hitam, sembari mengangkat tangan kanannya yang dikepalkan. Raut mukanya begitu bersemangat. Di samping foto lelaki gagah itu, tertulis ‘Ayo Pilih Yang Berpihak Kepada Rakyat Kecil’.
Untung cukup lama memelototi baleho seukuran layar tancap yang terpampang tidak jauh dari Pangkalan Ojek mereka itu.
“Itulah caleg-caleg banyak ini. Kalo udah musim Pemilu mereka pasti mendadak dekat dengan rakyat. Sok akrab, sok merakyat. Padahal, kalo mereka sudah jadi anggota dewan, mana ada yang ingat sama kita-kita ini. Ya, nggak, Bang?” celetuk Untung sambil mengepulkan asap rokoknya.
“Ya, namanya saja pejabat. Kita harus maklum. Sekarang ini, mana ada yang betul-betul mikirin rakyat. Soalnya, modal kampanye, kan, harus dibalikin,” timpal Badrun.
“Iya, ya, Bang. Lihat saja Si Miun itu. Padahal dulu, sebelum jadi anggota dewan, dia sering ngumpul-ngumpul sama kita. Sekarang, mana mau lagi dia bergabung sama kita.”
“Kita harus maklum dengannya. Si Miun sekarang, kan, bukan lagi Miun yang dulu. Dia sudah menjadi pejabat penting. Tugasnya banyak. Mungkin dia sangat sibuk dengan tugas barunya sebagai anggota dewan,” ucap Badrun.
“Oh, iya, ya. Para dewan, kan, selalu sibuk. Sibuk studi banding, rapat komisi, dan cari-cari komisi, he, he, he,” Untung mengejek.
“Hus, jangan ngomong sembarangan!”
“Tapi, memang begitu kan kenyataannya. Biasanya, kalo mereka lagi nggak ada ‘proyek’, mereka kelihatan sangat kritis. Mereka berkomentar di surat-surat kabar mengkritisi kinerja pemerintah. Setelah dikasih uang, baru mereka diam. Nggak berstatemen lagi di Koran. Padahal, kinerja anggota dewan saja belum tentu baik,” Untung kelihatan serius.
“Tahu dari mana kamu?” tanya Badrun.
“Wah itu, ilham, Bang. Terlintas begitu saja dari pikiran saya, he, he, he,” Untung bergurau.
“Kita tidak boleh selalu berburuk sangka dengan anggota dewan. Mungkin tidak semuanya anggota dewan yang bertabiat buruk seperti yang kamu sebutkan tadi. Masih ada kok yang benar-benar memperjuangkan aspirasi rakyat, walaupun tidak banyak,” terang Badrun yang sarjana hokum itu.
“Tapi, ada yang lucu lagi, Bang. Kabarnya, ada beberapa caleg yang mulai membiasakan diri berkunjung ke gedung DPR. Entah apa urusannya. Kalo menurut saya sih mereka membiasakan diri ke sana biar pada waktu kepilih nanti sudah nggak terlalu kaget dengan ruangan kerja yang baru. Itu sih kalo kepilih, he, he, he,” sindir Deden, tukang ojek lainnya yang sedari tadi hanya menguping.
“O, benar itu. Mungkin mereka sangat yakin bakal jadi dewan. Apalagi yang dukunnya hebat,” Untung mulai menyalurkan pikiran mistiknya.
“Ah, masak, iya, sih?” timpal Badrun yang memang kurang percaya dengan hal berbau klenik.
“Benar, Bang. Saat ini, jasa paranormal, kan, lagi laris-larisnya dipakai para calon pejabat dan pejabat yang kepingin mencalon lagi. Ada yang disuruh nabur garam di tengah malam, sampai mewiridkan zikir-zikir andalan yang diberikan oleh paranormal atau Kyai mereka,” Untung terus nyerocos.
“O, gitu, ya, Mas,” tanya Deden yang sedikit suka dengan hal berbau gaib.
“Iya. Ceritanya begini. Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke salah seorang kyai saya. Pas di situlah, saya melihat sebuah mobil pejabat tengah parkir di halaman rumah sang kyai. Ketika saya tanya, ternyata dia adalah seorang kepala dinas yang kepingin mencalon bupati di daerah sini,” cerita Untung yang memang masih hobi mendatangi kyai dan paranormal ini. Katanya sich, masih kepingin mendalami ilmu kanuragan dan pengasihan.
“Tapi, masalah pejabat mendatangi paranormal dan kyai itu kan sudah biasa di negeri kita ini. Rasanya wajar-wajar saja,” ucap Deden.
“Memang iya, sih. Tapi, nampaknya Rumah Sakit Jiwa harus menyiapkan lebih banyak kamar. Soalnya, bagi caleg-caleg yang nggak kepilih nanti padahal dia sudah merasa yakin bakalan jadi, maka siap-siap ditampung di Rumah Sakit tersebut, ha, ha, ha,” Untung terbahak-bahak diikuti semua orang yang ada di pangkalan itu.
“Halo, semua. Lagi ngomongin saya, ya!” teriak Bonar tiba-tiba yang muncul dari arah depan mereka.
“Iya, lagi ngomongin soal kamu yang belum kawin-kawin. Padahal, cewek di daerah kita ini kan banyak,” timpal Untung tersenggih.
“Ah, Mas Untung ini bisa saja,” Bonar sambil cengengesan.
“Eh, bawa apa kamu,” tanya Badrun sambil melirik ke saku baju Bonar.
“Oh, ini, Bang. Ini kartu nama Bang Miun. Itu, anggota DPRD kawan kita itu. Katanya dia mau nyalon satu periode lagi.”
“Ooo, jadi, kamu ini tim suksesnya, Nar?” sergah Untung.
“Ya, semacam itulah. Yang penting, ada hepengnya, Mas! Terus, katanya, kalo dia jadi nanti, aku mau diberinya job proyek. Ya, pekerjaan,” jawab Bonar bersemangat.
“Emang, kamu percaya sama janji caleg? Biasanya, kalo udah jadi, janji tinggal janji. Mana ada mereka ingat sama janjinya. Apalagi Si Miun. Dulu semasa dia kampanye, saya kan pernah dijanjiin mau dikasih proyek kalau dia terpilih. Tapi nyatanya, mana? Malahan dia sembunyi-sembunyi kalau saya mau bertamu ke rumahnya,” ujar Untung keki.
“Udah, gitu aja kok diributin,” timpal Badrun menengahi.
“Dari pada kita jadi tim sukses, mendingan kita bikin partai saja. Lalu, kita-kita ini yang jadi calegnya. Gimana, Nar?” kata Untung ngelantur.
“Wah, boleh juga tuh. Kalo begitu aku usul nama partainya nanti Partai Rakyat Kecewa. Biar lebih merakyat, soalnya, sekarang, kan, semakin banyak rakyat yang kecewa dengan partai,” usul Bonar.
“Jangan, mendingan kita namakan Partai Bintang Tujuh saja. Kan lebih keren kedengarannya,” Untung tak mau kalah.
“Setahu aku, Bintang Tujuh, kan, nama sebuah produk. Sudah ada yang pakai nama itu. Kita biasa disomasi orang, nanti,” jawab Bonar bak seorang pengacara.
“Itu urusan gampang. Kita tambah saja sedikit namanya menjadi Partai Bintang Tujuh Perjuangan, gimana? Beres, kan! Ha, ha, ha,” sela Badrun yang sedari tadi menahan sakit perut karena ingin tertawa mendengar obrolan ketiga temannya yang semakin konyol itu.
* Penulis adalah Pemimpin Umum Tabloid Criminal Post
Selasa, 07 Juli 2009
Langganan:
Komentar (Atom)